About Us

DOHA, DOHA, Qatar
adalah PERSATUAN dari IBU - IBU INDONESIA yang mengikuti SUAMI di QATAR - bekerja di QVC Chemical Company.

SELAMAT DATANG


•Assalamu’alaikum Wr. Wb

Buletin tahun ini tampil dengan wajah yang beda dari tahun sebelumnya, yaitu penyebaran dilakukan melalui internet, tidak melalui selebaran kertas lagi (diet pengeluaran kas)

Dalam buletin ini pun kita akan melihat sesi PROFILE.. Eits.. Apa tuhhhh?
PROFILE adalah sesi yang menampilkan tentang salah satu dari kita, tujuannya… ya…untuk saling mengenal lebih dalam dong, kan ada pepatah tak kenal maka tak sayang selain itu karena buletin ini untuk ibu - ibu sekalian maka harus ada juga kontribusi dari ibu - ibu juga... jadi kaya KOLOM KITA(KOKI)nya KOMPAS.. tapi ini koki INDOQVC…
jadi kalau suatu saat saya menghubungi salah satu dari ibu2 sekalian untuk wawancara… jangan ditolak yahhh!!

PROFILE kali ini akan menampilkan sosok IBU KETUA kita tahun ini sebagai pembukaan buletin edisi pertama ini. (YANG LAIN siap yaaa untuk jadi yang selanjutnya… tapi MAAF tanpa HONOR, hehehe)

BULETIN INDOQVC FEMALE akan terbit setiap sebulan sekali... jadi pada saat siap untuk dipublish dengan berita terbaru di tiap sesi, maka kami akan memberitahukannya melalui milis.

maaf terlalu panjang pembukaannya… kalo gitu mari kita langsung simak saja isi dari e-buletin kita.. Dan mohon maaf kalau dalam penyampaian kata – kata dan isi dari berita masih jauh dari sempurna, diharapkan kritik dan masukkan dari ibu – ibu semuanya.

Wassalamu’ alaikum Wr Wb.

Redaksi INDOQVC FEMALE

Showing posts with label resonansi. Show all posts
Showing posts with label resonansi. Show all posts

Thursday, September 18, 2008

RESONANSI

Indahnya Bertetangga

“Saudara yang terdekat adalah tetangga.” -- Siradjudin, Ayah Unyil dalam Film Serial ‘Boneka Si Unyil’

KABAR itu datang bersama tangis.
Perempuan yang sudah tidak muda lagi itu mengabarkan tentang kematian majikannya di rumah sakit. Si Nyonya, setelah bergulat dengan kanker yang menggerogoti tubuhnya, akhirnya berpulang pada sang Penciptanya.
Dalam keadaan bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sang pembantu rumah tersebut datang ke rumah di sebelahnya.
Karena praktis hanya ia sendiri, sedangkan semua keluarga majikannya berada di rumah sakit.
Beruntunglah dia datang pada tempat yang tidak keliru.
Jamil, sebut saja begitu namanya, yang kedatangan tamu di saat matahari belum lagi tinggi bersinar, langsung mempersilakan tamu sebelah untuk masuk.
Dia pun tanggap memahami apa yang terjadi. Jamil, layaknya seorang tetangga siaga, segera melangkahkan kakinya ke rumah duka.
Di sana, dia segera menelepon suami almarhumah untuk mengucapkan belasungkawa.
Dari perbincangan itu, sang suami meminta Jamil untuk melakukan sesuatu sebelum jenazah isterinya datang.
Dasar Jamil orang yang tidak kenal pamrih, dia segera meminta bantuan beberapa tetangga lainnya untuk membereskan rumahnya.
Mengosongkan ruangan. Mengatur meja dan kursi.
Memesan secara mendadak tenda untuk dipasang di teras rumah duka.
Dan akhirnya, dengan dibantu oleh para tetangga lainnya dan juga saudara sang tetangga yang kemudian datang, segala persiapan untuk mengurus jenazah selesai dilakukan.
Jamil telah berhasil melakukan perannya sebagai tetangga yang baik hati.
Meski pada hari Ahad itu dia telah memiliki banyak acara, tetapi sebuah keadaan darurat memaksanya untuk diam di rumah dan membantu keluarga yang tengah dilanda musibah.
Itulah sejatinya, fungsi seorang tetangga.
Ia ada dikala kita senang maupun susah.
Tetangga pula yang menjadi faktor pembentuk perilaku seseorang karena setiap hari kita bergaul dengan mereka.
Nah, Anda yang tinggal di kompleks perumahan, tentulah ritual menitipkan kunci pada rumah di sebelah bukan lagi hal yang aneh.
Nah, keajaiban pun bukan tidak mungkin terjadi.
Ini cerita yang saya alami sendiri.
Setelah pulang kerja, saya kehilangan dompet.
Semalaman saya mencarinya, mulai dari kolong tempat tidur, lemari, hingga ke tempat sampah. Hasilnya nihil.
Setelah pasrah, akhirnya saya pergi juga ke peraduan dengan masih memikirkan keberadaan dompet yang belum ditemukan.
Pagi sekali, saya dikejutkan oleh tetangga sebelah yang mendatangi rumah saya.
Rupanya ia ingin menyerahkan dompet saya yang ditemukannya secara tidak sengaja.
Ternyata dompet saya terjatuh ketika saya turun dari kendaraan, dan secara tak sengaja ditemukan oleh tetangga saya yang kebetulan pergi keluar untuk membuang sampah di malam hari! What a luck!
Tetangga adalah orang yang terdekat dengan kita.
Dia ada, ketika saudara-saudara kita mungkin masih terlelap, saat kita bisa jadi beroleh petaka. Mereka pula yang datang di awal, ketika kita sedang membuat acara kendurian.
Dan mereka para tetangga, sudah ada di rumah kita, sebelum para sanak famili tiba.
Meski begitu, kita harus akui. Tak semua karakter tetangga itu baik.
Ada yang bawel, ada yang kalem. Ada yang baik, ada yang sombong.
Ada yang judes, ada yang dibilang unik.
Tapi memang begitulah dinamika kehidupan bertetangga.
Kalaulah ada sedikit gejolak dengan munculnya gosip yang tak sedap, ah, anggaplah itu sebuah pernak-pernik yang layak terjadi.
Alkisah, seorang teman bercerita bahwa tetangga sebelahnya seringkali bergosip ria.
Ia justeru mengetahui hal itu dari cerita isterinya. Setiap minggu, selalu ada saja kisah-kisah menarik dari isterinya perihal para tetangganya. Isterinya sebenarnya sudah mulai risih bila bertemu dengan tetangga sebelahnya.
Karena pembicaraan nantinya, ujung-ujungnya malah ngegosip.
Suaminya malah berkomentar ke isterinya, bukankah artinya malah orang yang dibicarakan tersebut malah diperhatikan. Bukankah itu berarti sayang.
Bukankah itu juga berarti sebuah teguran agar orang yang digosipkan dapat mengubah perilakunya yang buruk jika memang benar demikian faktanya.
Itulah juga fungsi seorang tetangga.
Ambil saja hikmahnya. Begitu kata teman saya ke isterinya mencoba berfilosofi.
Kita semua tentu diajarkan untuk selalu memuliakan tetangga serta menghargai hak-haknya, walau tak semua berkarakter baik.
Misalnya: Tak boleh menyakitinya. Menjaga kediamannya ketika sang tetangga tak berada dirumah. Tidak membuat keributan yang dapat mengganggu ketenangan tetangga.
Selalu memberi saran yang baik. Memberikan makanan bila kita memasak berlebih.
Kita jenguk bila sakit. Bersikap baik dan tersenyum ketika kita menjumpainya.
Bersikap sabar bila ada perilaku mereka yang kurang berkenan.
Dan juga, ini yang paling penting: turut bergembira di saat mereka senang, dan tanpa diminta sedikitpun, untuk menolongnya dikala susah.
Sejatinya, tidak ada orang yang mau hidup sendirian, sekalipun ndableknya, dia masih ingin bersosialisasi dengan tetangganya.
Pada hakekatnya, dengan hidup bertetangga secara berdampingan tanpa ingin mencari musabab untuk bertentangan, membuat kita semakin paham akan arti kehidupan.
(080908)
Sumber: Indahnya Bertetangga oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta.

Monday, August 18, 2008

RESONANSI

Percaya Pada Kemampuan Diri Sendiri

“Jika ada keyakinan yang dapat menggerakkan gunung, itu adalah keyakinan dalam diri Anda.”-- Marie von Ebner-Eschenbach, penulis, 1830-1916

SEWAKTU masih kecil, mungkin Anda pernah mendengar kisah adaptasi yang berjudul ‘The Little Engine That Could’?
Buku itu bercerita tentang kereta api yang bergerak menuju bukit dengan perlahan dan tersendat-sendat.
Lokomotifnya berkata pada diri sendiri, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa.”
Kereta pun terus bergerak naik perlahan hingga tiba di atas bukit dengan selamat.

Pelajaran sederhana yang dapat diberikan dalam cerita tersebut ialah: percayalah pada kemampuan diri sendiri.
Jika seandainya lokomotif itu tidak percaya akan kemampuannya tiba di atas bukit, bisa jadi kisah dalam buku itu berakhir dengan menyedihkan.
Bukan hanya lokomotif itu saja yang dapat mengatakan, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa”, tetapi Anda pun dapat melakukan hal yang sama.
William Arthur Ward, seorang penulis kondang asal Amerika mengatakan, ”Saya adalah pemenang karena saya berpikir seperti pemenang, bersiap jadi pemenang, dan bekerja serupa pemenang.” Ward betul, jika Anda berpikir menjadi seorang pemenang, maka memang benar Anda seorang pemenang.

Kisah heroik sang lokomotif itu dalam dunia nyata dibuktikan sendiri oleh Hendrawan, atlet bulutangkis Indonesia. Tahun 1997, Hendrawan dinyatakan sudah habis oleh PBSI. Karena faktor usia dan prestasinya yang terus menurun, PBSI bermaksud mengeluarkan Hendrawan dari Tim Pelatnas. T
api Hendrawan punya keyakinan sendiri, bahwa ia percaya akan kemampuannya dan belumlah habis. Hendrawan masih percaya bahwa ia dapat meraih prestasi yang lebih baik lagi.
Dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi, dan tentu saja diiringi oleh kerja keras yang tidak mengenal lelah, Hendrawan menunjukkan kepada dunia bahwa ia memang mampu meraih prestasi yang luar biasa.
Hendrawan pun membuktikan kemampuannya setelah sempat dinyatakan sudah habis.
Tahun 1998, Hendrawan menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia.
Pada tahun itu juga ia menjuarai Singapura Terbuka.
Kemudian di tahun 2000, Hendrawan kembali menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia.
Di tahun itu pula ia mengukir namanya dengan meraih medali perak dalam Olimpiade Sydney. Masih di tahun yang sama, ia menjadi runner up Jepang Terbuka.
Dan pada tahun 2001, ia menjadi Juara Dunia Tunggal Putra, sebuah gelar yang menjadi idaman pebulutangkis manapun di dunia.
Dan pada tahun 2002, ia kembali membawa Indonesia mempertahankan Piala Thomas ke Tanah Air.

Percaya akan kemampuan diri sendiri tak harus ditunjukkan oleh mereka yang berprofesi sebagai atlet, yang bekerja di kantoran, yang mempunyai stamina fisik yang prima, atau mereka yang masih muda dan memiliki semangat menggebu-gebu.
Percaya pada diri sendiri, percaya akan kemampuannya, dapat ditunjukkan oleh siapa pun. Tanpa mengenal umur, pekerjaan, status, dan jenis kelamin sekalipun.

Generasi sekarang mungkin hanya mengenal nama Mak Erot. Seorang tokoh pengobatan legendaris khusus laki-laki yang kini telah tiada. Nama lain yang tak kalah kesohornya yang hampir mirip adalah Mak Eroh.
Generasi sekarang mungkin tak mengenal nama ini.
Tahun 1988, nama Mak Eroh sempat menyedot publik nasional. Saat itu, semua orang ramai memperbincangkannya .
Mak Eroh, waktu itu berumur 50 tahun, perempuan dari Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat memang telah mengukir prestasi besar. Apa yang membuat nama Mak Eroh melambung? Mak Eroh, bergelantungan seorang diri di lereng yang tegak di tebing cadas, di lereng timur laut Gunung Galunggung.
Mak Eroh berhasil berjuang sendirian membuat saluran air sepanjang 47 hari.
Ketika pertama kali Mak Eroh melakukannya, banyak masyarakat sekitar yang mencibir tindakannya.

Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bekerja.
Mak Eroh percaya akan kemampuan dirinya, walau saat itu usianya boleh dibilang tidak muda lagi. Seorang wanita yang mustinya menikmati hari tuanya dengan menimang atau bermain dengan cucunya.
Mak Eroh yang hanya mengecap pendidikan hingga kelas III SD dan memiliki tiga orang anak, dalam aksinya menggunakan tali areuy, tali sejenis rotan sebagai penahan ketika bergelantungan.
Sedangkan alat yang dipakai untuk ‘mengebor’ tebing cadas hanyalah cangkul dan balincong, sejenis linggis pendek.
Saluran untuk mengalirkan air dari Sungai Cilutung akhirnya berhasil diselesaikan.
Berhentikah tindakan Mak Eroh mengebor tebing cadas? Belum.
Dengan semangat yang tak kenal menyerah, Mak Eroh melanjutkan membuat saluran air berikutnya sepanjang 4,5 kilometer mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat.
Bukan main!
Pengerjaannya kali ini dibantu oleh warga desa yang mau membantunya, setelah melihat dengan mata kepala sendiri hasil yang telah dilakukan Mak Eroh.
Dalam waktu 2,5 tahun, pekerjaan lanjutan itu terselesaikan dengan baik. Hasilnya? Bukan hanya lahan pertanian sawah Desa Santana Mekar yang terairi sepanjang tahun.
Tapi juga dua desa tetangga yang ikut menikmati kucuran air hasil kerja keras Mak Eroh setelah warganya membuat saluran penerus, yaitu Desa Indrajaya dan Sukaratu.
Aksi Mak Eroh akhirnya sampai juga ketelinga Presiden Suharto.
Atas aksinya yang tergolong berani dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, Mak Eroh mendapat penghargaan Upakarti Lingkungan Hidup pada tahun 1988. Setahun kemudian, dia juga meraih penghargaan lingkungan dari PBB.

Dua kisah di atas memberikan hikmah bahwa sebenarnya kita memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan yang kita miliki. Seperti yang dikatakan oleh Mary Kay Ash, pengusaha kosmetik sukses asal Amerika, ”Anda bisa melakukannya jika Anda berpikir demikian, dan jika Anda kira tidak dapat melakukannya, Anda benar.” Percayalah akan kemampuan diri sendiri. Jadilah lokomotif, dan teruslah bergerak untuk maju. (210708)
Sumber: Percaya Pada Kemampuan Diri Sendiri
oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Sunday, June 15, 2008

RESONANSI

Melepaskan Sakit Hati

"No one can make you jealous, angry, vengeful, or greedy – unless
you let him. – Tak seorangpun membuat Anda cemburu, marah,
mendendam, atau rakus – kecuali Anda mengijinkannya. "
~ Napoleon Hill

Dalam pergaulan sehari-hari wajar jika kita tidak selalu bersanding
dengan kemesraan bersama teman-teman maupun keluarga, kerabat,
kolega bisnis, dan lain sebagainya. Ada kalanya terjadi benturan
kecil atau besar. Tak jarang kita juga bertemu dengan orang-orang
yang bersikap negatif, misalnya senang menghina, ikut campur urusan
pribadi, memotong pembicaraan, merusak kebahagiaan, menghancurkan
impian, senang menertawakan merendahkan, dan lain sebagainya.
Benturan-benturan maupun sikap negatif tersebut dapat menimbulkan
sakit hati yang luar biasa.

Tidak semua orang di antara kita berjiwa besar untuk melepaskan
sakit hati tersebut. Meskipun demikian, usahakan untuk melepaskan
sakit itu secepat mungkin sebelum meracuni jiwa kita. Pengalaman di
sepanjang hidup saya memberikan pelajaran berharga bahwa memelihara
sakit hati hanya menimbulkan kerugian dan kesulitan belaka.

Sebuah kisah berikut ini mungkin dapat memberikan gambaran yang
lebih jelas betapa tidak enaknya menyimpan rasa sakit hati.
Dikisahkan tentang seorang guru yang memberikan tugas cukup unik
kepada para anak didiknya untuk mata pelajaran budi pekerti. Hari
itu siswanya di kelas 3 SD diminta untuk memasukkan kentang ke dalam
sebuah kantong plastik, sesuai dengan jumlah orang yang tidak
disukai. Jika siswa membenci banyak orang, maka semakin banyak pula
kentang yang ia masukkan ke dalam plastiknya.

Tugas selanjutnya adalah para siswa diwajibkan membawa kentang-
kentang tersebut ke mana pun mereka pergi selama satu minggu. Hari
pertama, kedua dan ketiga para siswa masih belum banyak mengeluh.
Tetapi menginjak hari ke-4 sampai hari ke-6, hampir seluruh siswa
itu mengeluh, karena merasa sangat tersiksa membawa beban yang cukup
berat apalagi kentang-kentang itu mulai membusuk dan berbau. Setelah
satu minggu barulah kentang-kentang itu dilepaskan, murid-murid itu
pun merasa sangat lega.

Kisah tersebut mengisyaratkan alangkah ruginya menyimpan rasa sakit
hati terus-menerus. Salah satunya mungkin sakit hati itu menyebabkan
tubuh kita menjadi cepat letih dan sakit. Selanjutnya, menyimpan
rasa sakit hati dapat menghambat upaya kita mencapai tujuan-tujuan
yang lebih tinggi dan usaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih
baik.

Sebaliknya, bila kita berbesar hati melepaskan sakit hati itu maka
kita akan lebih mudah memetik manfaat darinya. Meskipun usaha itu
tidak mudah, tetapi selama Anda berkemauan maka tidak akan ada yang
sulit. Semoga beberapa tip berikut ini memudahkan usaha Anda
melepaskan diri dari rasa sakit hati.

Berbicara tentang upaya melepaskan diri dari sakit hati tentunya
kita harus terlebih dahulu menjernihkan hati kita agar dapat
memandang persoalan dengan jernih pula. Koreksilah diri sendiri,
bersihkan hati dari kotoran temasuk iri, dengki, sirik, pelit,
culas, dan lain sebagainya. Pastikan bukan diri Anda sebenarnya yang
keliru atau terlalu sensitif, sehingga orang lain berbuat sesuatu
yang wajar saja tetapi bagi Anda sudah menyakitkan hati.

Bila hati nurani sudah dapat memastikan tidak ada yang salah dalam
diri Anda, maka cara yang dapat Anda tempuh untuk melepaskan sakit
adalah tersenyum tulus dan selalu menampilkan wajah ceria untuk
melepaskan sakit hati terhadap orang yang sudah menyakiti hati Anda.
Karena tanpa mereka sadari sebenarnya sikap buruk mereka justru
mengasah hati nurani Anda semakin tajam. Anda sudah merasakan betapa
tidak enaknya dihina, dihasut, difitnah, dimanfaatkan, dan lain
sebagainya, sehingga Anda tidak akan berani melakukan sikap buruk
yang sama. Secara tidak langsung mereka sudah menyebabkan kebaikan-
kebaikan di dalam hati nurani Anda semakin indah terpancar dalam
sikap maupun perbuatan Anda.

Berusahalah bersikap manis sebagai bentuk terima kasih kepada orang
yang sudah menyebabkan Anda sakit hati. Bagaimanapun juga, mereka
sudah menginspirasi Anda untuk mendidik diri sendiri maupun
keturunan Anda untuk tidak melakukan sikap serupa. Sehingga, diri
Anda maupun keturunan Anda nanti lebih terkontrol untuk tidak
berbuat sesuatu yang dapat menyakiti orang lain.

Tanamkan dalam pikiran Anda bahwa orang-orang yang sudah menyakiti
hati Anda itu memiliki andil yang sangat besar membesarkan tekad dan
kemampuan Anda. Mereka sudah membuat Anda memiliki pribadi yang kuat
dan sabar. Sehingga, Anda tidak mudah goyah menghadapi situasi
sesulit apa pun dalam upaya mengejar cita-cita dan menjadi orang
yang hebat.

Ini pengalaman pribadi ketika saya bekerja di sebuah perusahaan di
Malaysia belasan tahun yang lalu. Seseorang sudah berbuat culas,
sehingga karier dan investasi yang saya bangun dengan susah payah
hancur lebur tak bersisa dalam sekejap mata. Terus terang waktu itu
saya sangat terpukul dan sakit hati atas perbuatannya.

Cukup lama saya menyimpan rasa sakit hati pada atasan saya tersebut.
Tetapi kemudian, saya berpikir alangkah bodohnya membiarkan
kebencian merasuki pikiran saya. Susah payah saya merasakan sakitnya
hati, sedangkan dia tidak ikut merasakan penderitaan saya.

Sejak saat itu saya bertekad untuk melupakan semua kenangan buruk
dengan menumpahkan seluruh kekesalan pada selembar kertas lalu
membakarnya. Saya bertekad bahwa kebencian saya harus lenyap seperti
hancurnya kertas itu dimakan api. Memori akan perlakuan buruk itu
saya jadikan semangat untuk memperbaiki keadaan, membangun usaha
sampai akhirnya saya memiliki bisnis seperti sekarang ini.

Saya ingin menyimpulkan bahwa solusi paling tepat untuk melepaskan
sakit hati sebenarnya hanyalah mengubah api kebencian itu menjadi
api semangat untuk berbenah diri. Lepaskanlah sakit hati agar
langkah Anda semakin ringan untuk mengejar impian yang lebih besar
dan berarti dalam hidup Anda. Melepaskan sakit hati memungkinkan
Anda menjadi manusia lebih baik dan hebat.[aho]

Sumber: Melepaskan Sakit Hati oleh Andrew Ho, seorang pengusaha,
motivator, dan penulis buku-buku bestseller.

Friday, May 16, 2008

RESONANSI

Pertapa Muda dan Kepiting

Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, tampak seorang pertapa
muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai.
Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian
pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar
tidak beraturan.

Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera
melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal.
Ternyata, di sana tampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras
mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga
tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.

Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera
mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat
tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa
muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi
hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.

Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama
bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang
sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami
kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan
tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi
membantunya.

Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus
lagi. Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya
makin membengkak karena jepitan capit kepiting.

Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang
menghampiri dan menegur si pertapa muda, "Anak muda, perbuatanmu
menolong adalah cerminan hatimu yang baik. Tetapi, mengapa demi
menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu
hingga sobek seperti itu?"

"Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang
benda. Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka,
saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa
menolong nyawa makhluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting,"
jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih
sikap belas kasihnya dengan baik.

Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut
sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang
terlihat kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap
ranting itu dengan capitnya. "Lihat Anak Muda. Melatih mengembangkan
sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan
kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong makhluk
lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri.
Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul kan?"

Seketika itu, si pemuda tersadar. "Terima kasih, Paman. Hari ini
saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai
dengan kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat
kebijaksanaan yang Paman ajarkan."

Pembaca yang budiman,
Mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan dan menolong orang
lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada
anak kita, orangtua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun.
Tetapi, kalau cara kita salah, sering kali perhatian atau bantuan
yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi
bumerang. Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar
berniat membantu, malah harus menanggung beban dan kerugian yang
tidak perlu.

Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya
diberikan dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan
itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif bagi yang dibantu,
tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita
yang membantu.

Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso

Sumber: Pertapa Muda dan Kepiting oleh Andrie Wongso

Thursday, April 3, 2008

RESONANSI

Berani Berubah

"Kita sering berpikir bahwa kita harus membuat perubahan besar. Mari kita coba buat perubahan yang kecil-kecil dahulu. Jika dilakukan secara strategis, perubahan yang kecil itu akan membawa pengaruh yang besar."-- Marian Wright Edelman, aktivis HAM anak-anakTAK ada yang berubah kecuali perubahan itu sendiri, begitu orang bijak bilang. Kalau orang bijak berkata, sulit untuk dibantah. Ada bukti yang bikin jantung tercetak.

Ini beritanya: pada awal Februari lalu, maskapai penerbangan Japan Air Lines atau yang lebih dikenal dengan nama JAL mengumumkan kebahagiaannya. Mereka, sejak kuartal ketiga di tahun 2007, membukukan keuntungan hingga 13,1 miliar yen. Bukan hanya jumlah keuntungan yang luar bisa besarnya itu yang bikin banyak orang terkejut, namun berita tentang perusahaan ini membaik pun sebenarnya sudah bisa bikin kepala orang bergeleng takjub. Ada sebabnya tentu saja. Perusahaan penerbangan ini dalam beberapa tahun terakhir, dikenal sebagai maskapai dari negara maju yang memiliki lalu lintas penerbangan sibuk, lha kok malah merugi.Ketika krisis harga minyak dunia terjadi, JAL selama dua tahun terakhir, dari 2005 hingga 2006 mengalami kerugian sekitar 16,3 miliar yen atau setara dengan 152,6 juta US$. Kerugian utamanya disebabkan armada yang dimiliki JAL, yaitu sebanyak 271 pesawat, tergolong rakus menenggak bahan bakar. Nah, naiknya harga minyak dunia yang semakin membubung ternyata tidak diimbangi dengan naiknya pendapatan perusahaan. Mau tak mau membuat mereka limbung. Fenomena yang dialami JAL, jelas saja mendapat sorotan tajam.

Mengingat sebagai negara maju dengan penerbangan yang sibuk, kok bisa-bisanya merugi. Satoru Aoyama, analisis dari Fitch Ratings, seperti dikutip The Wall Street Journal awal Februari 2007 lalu, menyebut JAL, sebagai Zombie Company. Atau bahasa melayunya, hidup segan mati pun tak mau. Masih mau terpuruk? Pastilah ogah. Pihak manajemen pun buru-buru melakukan aksi perbaikan. CEO JAL, Haruka Nishimatsu tak tinggal diam. Nishimatsu melakukan perubahan besar-besaran di segala bidang. Tahun 2007 di bulan Februari, Nishimatsu melakukan PHK terhadap 4.300 karyawannya. Tak hanya itu, Nishimatsu mengumumkan memangkas gaji 40 top eksekutifnya hingga 60%. Tak terkecuali dirinya. Pemotongan gaji para top eksekutifnya itu tak ayal dapat menghemat hingga 9,6 miliar yen. Langkah lain pun dilakukan untuk eksternal organisasi.

Di bidang pelayanan misalnya, JAL meningkatkan pelayanannya. Di antaranya, dengan memperkaya menu makanan dan minuman. Jok kursi untuk penumpang pun dibuat mewah, yaitu menggantinya dengan kulit hewan. Namun, untuk semua pelayanan yang serba wah ini, penumpang tak harus merogoh kocek lebih dalam. Harga tiket tetap tidak dinaikkan. Hasilnya pun cespleng. Ujung tahun lalu, JAL pun mencatat keuntungan hingga 13 miliar yen.

Hikmah yang dapat dipetik dari kisah ini adalah perubahan. Ibarat sebuah bayangan, dimana tiap kali kita melangkah, ia senantiasa mengiringi langkah kita. Semua yang harus dilakukan sebenarnya tidak saja saat guncang, tetapi juga dalam keadaaan yang menyenangkan. Ini

pengalaman lain yang bisa dijadikan contoh.

Kenal dengan nama Sir Alex Ferguson? Di tahun 2000, setahun setelah mendapatkan treble alias tiga gelar juara sekaligus dalam satu musim, klub Manchester United kembali berjaya di liga Inggris dengan menjadi juara. Namun, tak lama setelah berjaya, Sir Alex Ferguson, sang pelatih yang menukangi klub tersebut punya penilaian tersendiri. Ferguson mencoba mematahkan mitos, "don't change the winning team", atau jangan rombak tim juara. Ia justru merombak tim yang ada. Ada pertimbangan yang kadang tidak selalu bisa dipahami orang awam.

Ferguson menganggap tim yang itu-itu saja dapat memberikan rasa kebosanan. Selain itu, ada beberapa pemain yang memang sudah lanjut usia. Ibarat mesin, barang yang sudah tua akan mengganggu kerja mesin secara keseluruhan. Dengan berat hati, Ferguson pun melepas beberapa pemainnya. Pemain yang benar-benar bagus dipertahankan. Pemain yang dinilai kurang memuaskan dijual atau dipinjamkan ke klub lain. Pemain baru didatangkan untuk mengisi posisi yang kosong.

Tim telah dirombak.
Lantas apa hasilnya setelah dirombak?
Banyak orang bilang Ferguson melakukan langkah keliru.
Sebabnya, musim-musim berikutnya mereka malah kedodoran. Tapi Ferguson tak mau diam saja. Sambil berjalan, dia terus melakukan perubahan dengan pola yang sama. Hasilnya memang tidak serta merta memberikan hasil gemilang. Beberapa kali, klub ini kehilangan gelar selama tiga tahun berturut-turut.

Sampai akhirnya musim lalu, mereka kembali berjaya, dengan personel atau formasi pemain yang benar-benar berubah. Dua kisah di atas tampaknya menjadi relevan saat kita menghadapi berbagai masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Entah di lingkungan kerja atau lingkungan di rumah. Ada beberapa hal yang mau tidak mau membuat kinerja di dalamnya terganggu. Banyak faktor memang, tetapi perubahan tetap harus dilakukan. Ambil yang baik, buang yang buruk.

Tidak semudah yang dikira.
Organisasi di wilayah rukun tetangga adalah hal yang pelik.
Seorang warga yang tidak pernah mau ikut kerja bakti di hari minggu kerap menimbulkan disharmoni di antara warga.

Lantas apa yang dapat dilakukan? Mengusirnya dari lingkungan ia tinggal? Tentu tidak. Satu hal yang perlu dilakukan adalah mengajaknya bicara dengan baik-baik dan dilakukan dengan gaya dari hati ke hati. Dengan cara seperti itu, semua persoalan akan mengemuka dan dengan demikian akan menjadi mudah dalam mencari solusinya.

Sebenarnya hal itu pula yang dilakukan Haruka Nishimatsu dan Sir Alex Ferguson pada saat mereka mulai melakukan perombakan dalam organisasinya. Tetapi jangan lupa, dalam melakukan perubahan, sebelum Anda mendapatkan yang terbaik, tentu saja Anda harus memberikan yang terbaik dahulu.

Sumber: Berani Berubah oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Thursday, March 13, 2008

RESONANSI

Buku Telepon

Sebuah renungan untuk hari ini...
Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik. Seorang guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.

"Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuatmu bahagia? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini?" Murid-murid tampak saling pandang. Terdengar suara lagi dari guru, "Ya,ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu..." Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan guru itu menunjuk pada seorang murid.
"Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui?
Berbagilah dengan teman-temanmu. .."

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, "Seminggu yang lalu,
adalah masa yang sangat besar buatku. Orangtuaku, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang aku impikan selama ini" Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu.

"Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa
mengalahkan kebahagiaan itu!" Sang guru tersenyum. Tangannya menunjuk
beberapa murid lainnya. Maka,terdengarlah beragam cerita dari
murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah
mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri.
Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki
gunung. Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara, hingga terdengar suara dari arah belakang.

"Pak Guru... Pak, aku belum bercerita" Rupanya, ada seorang anak di
pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar. Mata yang sama
seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya. "Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua", ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu. "Apa hal terbesar yang kamu dapatkan?", Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

"Keberhasilan terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah... saat nama keluarga kami tercantum dalam buku telpon yang baru terbit 3 hari yang lalu" Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, "Ha? aku sudah sejak lahir
menemukan nama keluargaku di buku telpon. Buku Telpon? Betapa
menyedihkan. .. Hahaha" Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, "Apa
tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam
itu?" Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi
ruangan.

Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan.
"Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya.
Silahkan teruskan, Nak..." Anak berambut lurus itu pun kembali angkat
bicara. "Ya. Memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah aku
dapatkan. Dulu, Ayahku bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi"

Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan. "Tapi, kini Ayah telah berubah. Dia telah mau menjadi Ayah yang baik buat keluargaku. Sayang, semua itu butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja.Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Ayahku. Dan kini, Ayah berhasil.

Bukan hanya itu, Ayah juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan
kami tak perlu berpindah-pindah lagi.Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluargamu ada di buku telpon? Itu artinya, aku tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan ayah untuk terus berlari. Itu artinya, aku tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang aku sayangi.

Itu juga berarti, aku tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, aku, dan juga keluargaku, adalah sama
derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya" Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir. "Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nanti..."

Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk. Mereka
baru saja menyaksikan sebuah fragme tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan. Mereka juga belajar satu hal: "Bersyukurlah dan berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun... Sebesar apapun"

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Wednesday, February 6, 2008

RESONANSI

Resonansi
Decide or Defeat!

"Whenever you see a successful business, someone once made a
courageous decision" Peter Drucker

Pembaca, mudah-mudahan Anda melewati masa liburan akhir tahun yang
menyenangkan. Itu yang saya rasakan. Setidak-tidak, setelah melewati
setahun yang meletihkan dengan jadwal training, seminar coaching dan
personal konseling yang padat, saya berkesempatan lagi berlibur
bersama keluarga ke Kuta, Bali.

Dan sewaktu menunggui anak saya bermain di kolam anak-anak, saya
berendam di Jacuzzi sambil rileks dan membuka-buka beberapa buku yang
dipinjamkan dari perpustakaan hotel. Saat itu, pikiran saya justru
tertuju pada sebuah buku anak-anak bergambar. Dan, tak disangka,
inilah yang menjadi bahan artikel motivasi untuk saya share-kan pada
Anda di awal tahun ini.

Diceritakan dalam buku dongeng bergambar itu kisah tentang kelelawar
yang tidak bisa memutuskan, apakah mau bergabung dengan kelompok
burung ataukah bergabung dengan kelompok binatang.

Awalnya dikisahkan bahwa kedua kelompok ini sedang berseteru,
bersaing dan berkelahi. Karena tidak ingin kalah dan tanggung risiko,
maka kelelawar memutuskan menunggu siapa yang menang. Nantinya,
kepada kelompok yang menang itulah, kelelawar akan bergabung.

Awalnya burung menang, maka kelelawar pun bergabung dengan burung.
Tetapi tatkala burung akhirnya kalah, kelelawar pun berbalik arah
bergabung dengan binatang. Namun, akhirnya karena tahu kelakuan
kelalawar yang buruk, maka tidak ada satu kelompok pun yang
menginginkan kelelawar.

Karena takut dan malu, kelelawar hidup menyendiri di gua yang gelap
dan hanya berani keluar di waktu malam. Itulah nasib kelelawar yang
tidak mau membuat keputusan yang pasti tentang nasib mereka.

Pembaca, cobalah kita renungkan soal pengambilan keputusan yang
pernah Anda lakukan dalam hidup Anda. Ada satu hal yang pasti,
bagaimana dan seperti apa kehidupan Anda sekarang, pasti tergantung
dari keputusan yang telah Anda buat sebelumnya.

Namun, jangan hanya pikirkan keputusan yang sudah Anda buat,
keputusan yang tidak Anda buat pun menjadikan diri Anda seperti
sekarang. Dalam realita kehidupan, memutuskan suatu pilihan ataupun
tidak mengambil pilihan, itupun suatu keputusan besar.

Cobalah lihat keputusan Anda. Misalnya keputusan di mana Anda
bersekolah, di mana Anda bekerja, keputusan siapa yang akhirnya jadi
pasangan Anda. Itulah keputusan-keputusan besar Anda. Maka nasib Anda
hingga di awal 2008 pasti ditentukan oleh segala keputusan yang
bersinergi membentuk kehidupan Anda saat ini.

Jadi, salah satu rumusan sukses yang kita ingin tegaskan dalam
kesempatan ini adalah, buatlah keputusan! Kadang kita tidak pernah
tahu apakah keputusan kita benar atau salah, tetapi kita harus berani
membuat keputusan. Saya pun teringat dengan suatu puisi tentang
seorang yang kebingungan di bahwa pohon apel yang rindang. Ia bingung
soal apel manakah yang harus ia petik duluan. Semua tampak lezat. Di
akhir kisahnya, sangat tragis. Orang itu tidak bisa memutuskan dan
akhirnya ia mati kelaparan!

Tiga pelajaran

Kisah kelelawar maupun kisah orang yang mati kelaparan ini
mengajarkan kepada kita tiga hal. Pertama, your decision will shape
your destiny. Keputusan Andalah yang menentukan nasib Anda sekarang.
Sukses atau gagal, mari lihat kembali semua keputusan yang pernah
Anda ambil.

Jadi, pikirkanlah bahwa di tahun depan, ada banyak lagi keputusan
yang harus Anda ambil, jika Anda menginginkan kehidupan yang lebih
baik. Intinya, no decision, no change, no progress. Tanpa keputusan
maka tak ada kemajuan berarti yang bakal terjadi. Camkan baik-baik!

Kedua, tidak ada keputusan tanpa risiko. Karena itu, keputusan harus
tetap diambil. Tidak mengambil keputusan pun berisiko. Sama seperti
yang dikatakan Warren Buffet dalam biografinya, mengutip dari buku
yang pernah dibacanya. Ia pun berkata bahwa ia belajar dari keputusan-
keputusan yang dibuatnya, termasuk belajar dari keputusan salah yang
pernah dibuatnya.

Jika sudah demikian, dapat kita simpulkan bahwa keputusan itu tidak
pernah salah. Yang ada hanyalah keputusan yang baik atau kurang baik.
Semua keputusan pasti benar, dalam arti selalu mengandung hikmah
pembelajaran di dalamnya.

Ketiga, jika sudah membuat keputusan berjuanglah sampai keputusan itu
memberikan hasil. Kita baru tahu apakah keputusan itu baik atau
tidak, setelah proses perjalanan waktu.

Para guru kebijaksanaan kita sebelumnya selalu mengajarkan pelajaran
yang sederhana kepada kita. Ingat. Saat Ciputra memutuskan mengurusi
proyek Senen ataupun menyulap pantai Ancol, banyak yang menganggapnya
keputusan buruk. Namun, perjuangannya untuk menyukseskan keputusan
itu membuahkan hasil yang spektakuler.

Karena itu, pembaca, bagaimana nasib Anda pada tahun ini bisa
diramalkan dari keputusan yang segera akan Anda buat ataupun yang
tidak Anda buat! Keputusan di mana Anda akan berinvestasi, keputusan
dengan siapa Anda akan bermitra. Keputusan siapa yang akan menjadi
pendamping Anda. Keputusan strategi apa yang Anda akan jalankan.
Itulah yang akan membentuk nasib Anda pada 2008.

Dan jangan lupa, keputusan yang tidak Anda buatpun akan membentuk
nasib Anda. Hanya saja, ketika Anda tidak membuat keputusan berarti
Anda harus bermain dengan aturan yang diciptakan dari keputusan orang
lain.

Akhirnya, mari kita renungkan apa yang diucapkan oleh psikolog
terkenal Wiilaim James, "When you have to make a choice and you don't
make it, that itself is a choice." (ketika Anda harus membuat
keputusan, tetapi Anda tidak melakukannya. Itu sendiri sudah
merupakan keputusan). Tergantung Anda mau memutuskan untuk hidup Anda
atau membiarkan orang lain yang memutuskan nasib Anda. Selamat Tahun
Baru 2008!

Sumber: Decide or Defeat! oleh Anthony Dio Martin, Director HR Excellency

Thursday, January 17, 2008

RESONANSI

KOMITMEN

Rapat waktu itu memang sangat bermanfaat.
Gara-gara Rudi, semua orang seakan-akan baru terbangun dari tidur selama ini. Biasanya tak ada seorangpun yang mau disalahkan, tapi kini semua orang berusaha memperbaiki dirinya. Kemarin, datang tamu dari Kantor Perwakilan negara tetangga di Asia. Tamu ini baru dua kali datang ke Indonesia. Kemarin adalah yang ketiga kalinya. Rapat segera diadakan bersama tamu tersebut.
Begitu rapat dimulai, semua orang heran karena tamu itu berkata:"Selamat pagi, teman-teman. Saya senang sekali bertemu dengan anda semua. Bagaimana kabarnya? Bisnis maju terus?" Semua orang sampai tidak bisa segera menjawab. Bahasa Indonesianya lancar sekali. Padahal kalau ke Indonesia paling lama hanya 10 hari. Selama rapat dia bisa memahami sebagian pembicaraan dalam bahasa Indonesia meskipun dia tidak bisa mengucapkannya.
Rudi lalu bertanya kepada tamu tersebut mengenai strateginya belajar bahasa Indonesia dengan cepat. Apa jawabnya? Ternyata dia banyak belajar dari film. Dia membeli film berbahasa Inggris di Indonesia yang mencantumkan teks bahasa Indonesia. Dari situlah dia belajar bahasa Indonesia. Kok harus lewat film? Katanya lewat film lebih mudah mengikuti, karena ada ceritanya. Waduh! Rudi ingat kasusnya sendiri. Belajar bahasa Inggris saja malasnya bukan main. Eh, orang asing kok tidak malas belajar bahasa Indonesia? Malu juga sih mendengar kerajinan tamu asing. Berarti tamu tadi minimal bisa bicara tiga bahasa kan? Bahasanya sendiri, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Tak pernah telat
Di samping masalah bahasa, ternyata tamu tadi juga banyak belajar. Dia berhasil meyakinkan bahwa selama 2006 dan 2007, dia tidak pernah terlambat masuk kerja. Satu kalipun tidak pernah. Bahkan bukan hanya dia, tapi semua orang di kantornya tidak pernah terlambat masuk kerja. Penjualan bulanan juga tidak pernah gagal selama dua tahun terakhir ini. Kok bisa? Karena semua orang punya komitmen, bahwa penjualan harus berhasil, masuk kerja harus lebih pagi agar tidak terlambat. Tidak ada istilah "sekali-kali boleh terlambat". Juga tidak ada istilah "kalau bulan ini gagal, kita coba lagi bulan depan". Kalau di awal bulan sudah kurang bagus, semua orang bekerja dan lembur habis-habisan agar bulan itu tidak gagal. Rudi merasa ini adalah saat yang tepat untuk berubah. Mumpung pas akhir tahun. Tahun 2008 bisa sekalian dijadikan tahun perubahan. Rudi berkata "Sepertinya komitmen semacam inilah yang saya butuhkan. Bagaimana kalau kita masing-masing menentukan perubahan yang akan dilakukan di tahun 2008? Supaya kita pasti melakukan perubahan tersebut, sepertinya kita harus memberikan komitmen kita di forum ini".
Segera presiden direktur berkata "Setuju! Saya memberikan komitmen untuk masuk lebih pagi, saya tidak akan pernah terlambat lagi. Saya juga akan mengadakan rapat harian dengan bagian penjualan dan rapat mingguan dengan bagian lain dijadikan dua kali seminggu." Rudi berkata "Saya juga tidak akan terlambat lagi. Saya akan belajar bahasa Inggris mulai hari ini. Target saya tahun depan adalah meningkatkan ekspor 100%. Saya juga akan menelepon 30 kien per hari dan menemui minimal 8 klien per minggu. Biasanya kalau saya gagal menelepon klien karena dia sedang rapat, saya lewati dia dan jumlah klien yang saya telepon jadi berkurang." Rudi melanjutkan, sekarang saya akan tetap berusaha menelepon kembali klien tadi atau menggantikannya dengan klien lain. Jadi jumlah klien yang saya hubungi tidak berkurang. Saya juga akan mengirim minimal 10 e-mail penawaran per hari ke luar negeri" Toni, bagian keuangan, juga segera berkata "Saya juga tidak mau terlambat lagi. Laporan hasil penjualan harian akan selesai paling lambat pukul 09.00 keesokan harinya, bukan lagi sore hari." Bagian-bagian lain juga memberikan komitmen. Bagian proyek paling seru karena mereka berani memberikan komiten bahwa proyek akan selalu selesai tepat waktu, padahal selama ini belum pernah satu kalipun tepat waktu. Bagaimana strategi mereka? Pengawasan harian akan diperketat sehingga target harian terpenuhi. Dengan demikian, target mingguan dan bulanan juga terpenuhi, sehingga proyek bisa selesai tepat waktu. Mereka langsung memperbaiki jadwal kerja mereka agar lebih mudah dimonitor.

Selesai rapat, tamu tadi bercerita bahwa akhir 2005 semua karyawan di kantornya juga melakukan hal seperti ini. Semua orang memberikan komitmen untuk 2006. Ternyata hasilnya luar biasa di tahun tersebut. Karena itu, akhir 2007 mereka melakukan hal itu lagi. Tahun 2007 ternyata luar biasa. Tahun ini mereka akan melakukannya lagi minggu depan. Komitmen untuk 2008 sudah dipersiapkan.

Bukan saatnya lagi kalau hanya membuat target tahunan yang indah di atas kertas, tapi dalam hati sebenarnya merasa bahwa target itu mustahil. Tidak mungkin tercapai. Terlalu tinggi. Akibatnya, tidak ada seorangpun yang mengusahakannya untuk benar-benar bisa tercapai. Yang penting komitmen. Namun, tidak mencari komitmen yang mudah. Kalau hal-hal yang mudah, tidak perlu komitmen lagi. Justru hal-hal yang menantang yang memerlukan komitmen tinggi.

Tantanglah diri anda! Give your commitment!

Sumber: Komitmen oleh Lisa Nuryanti, Managing Director Expands Consulting

 
-
design by labibahs graphics.com