Bijak Belanja Saat Lebaran
Lebaran identik dengan belanja.
Bagaimana agar kegiatan satu itu tak sampai membuat Anda “pailit”?
Lebaran adalah saat ketika seluruh umat muslim merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Juga saat menyambung kembali tali silaturahmi yang sempat terputus oleh berbagai kesibukan.
Tak heran jika orang rela mengeluarkan berapa pun uang yang dimiliki untuk menyemarakkan hari istimewa itu.
Namun, waspadai pengeluaran yang membengkak di hari Lebaran, yang bisa menghabiskan simpanan Anda.
Pengeluaran membengkakSetiap tahun, kita menghadapi beberapa momen berulang yang butuh pengeluaran besar.
Antara lain: Hari Raya (sesuai agama yang dianut), anak masuk sekolah atau masuk ke jenjang pendidikan baru (misalnya masuk TK, atau SD), dan masa-masa liburan.
“Ketiga momen ini harus diantisipasi sebelumnya,” ujar Safir Senduk, perencana keuangan keluarga dari Biro Perencana Keuangan Keluarga Safir Senduk & Rekan.
Khusus untuk bulan puasa dan Lebaran, pengeluaran dapat membengkak berkali-kali lipat.
Dea Denty (28 tahun) ibu dari Fayadh (1,5 tahun) dan Maya Miranda Ambarsari (31 tahun), ibu dari Muh. Khalifah Nasif (2 tahun), mengakui hal itu.
Menurut mereka, Lebaran identik dengan kenaikan harga-harga dan banyaknya kebutuhan. Dua ibu itu lantas merasa perlu mempersiapkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum masuk bulan puasa. Tidak ada patokan ideal untuk pengeluaran Lebaran.
Namun, menurut Safir, umumnya, sebuah keluarga mengeluarkan sekitar 2 – 3 kali dari pengeluarannya perbulan.
Pengeluaran ini masih termasuk pengeluaran yang wajar.
“Jika pengeluaran di Hari Raya hingga lima kali pengeluaran bulan-bulan sebelumnya, kita harus waspada!” ujarnya.
Cermati pos-pos baruCermati munculnya pos-pos baru atau pos-pos lama yang angkanya berlipat di Hari Lebaran.
Misalnya, sembako yang harganya jadi berlipat karena kebutuhan meningkat.
Sedangkan pos-pos baru, antara lain: pemberian hadiah Lebaran untuk pekerja di rumah, kerabat atau tetangga dan biaya mudik.
Tentu saja dana yang dikeluarkan untuk pos-pos tertentu pada satu keluarga berbeda dengan keluarga lain, sesuai kebutuhan masing-masing.
Bagi Maya, pos baru yang banyak mengeluarkan biaya adalah perbaikan perabotan rumah. “Suami saya orang Timur Tengah. Saat Lebaran, kami menerima banyak tamu. Karena suasananya cukup spesial, akan datang orang-orang dari kedutaan beserta keluarganya, saya harus membereskan rumah. Biasanya saya perbaharui tirai dan sofa, juga mencat tembok,” ucap konsultan hukum ini.
Berbeda dengan Maya, Dea justru mempersiapkan satu pos yang sama sekali baru untuk Lebaran tahun ini. “Mertua saya baru pindah ke Yogyakarta dari Jakarta. Jadi, kami akan menjenguknya. Kami harus menyiapkan dana khusus untuk pesawat dan hotel. Padahal, di saat-saat Hari Raya tarif hotel dan tiket pesawat cukup tinggi harganya,” ujar karyawati di sebuah perusahaan swasta ini.
Perencanaan sebelum hari “H”“Teorinya, semua pengeluaran besar itu lebih mudah jika kita persiapkan dananya jauh-jauh hari. Sayangnya, hal ini sering kali tidak terpikirkan.
Banyak keluarga mengandalkan THR (Tunjangan Hari Raya) atau bonus lain untuk pengeluaran ini,” ucap Safir. Untuk itu, Safir menganjurkan merencanakan apa saja yang akan dilakukan selama Lebaran dengan baik, karena semua itu ada hubungannya dengan dana yang akan dikeluarkan.
Perencanaan, paling tidak, dilakukan dua bulan sebelum hari “H”. Perencanaan yang baik akan mengurangi biaya yang tidak perlu.Walaupun tidak menyimpan dana khusus untuk Lebaran, namun Dea mempersiapkan diri cukup baik.
Ia bahkan telah mencicil membeli baju-baju Lebaran untuk dirinya, suami dan anak jauh-jauh hari. Demikian pula baju dan perlengkapan salat untuk pembantunya.
Sedangkan Maya merasa perlu melakukan beberapa penghematan untuk menekan pengeluaran waktu Lebaran.
Antara lain, mencicil membeli barang-barang yang diperlukan jauh-jauh hari, membuat sendiri parcel atau hantaran untuk para kolega dan, jika perlu, tidak membeli pakaian baru untuk Lebaran. Karena punya usaha sendiri, Maya harus lebih hati-hati mengatur pengeluaran. Pemasukan dan pengeluaran diaturnya dalam pos-pos khusus dengan sangat hati-hati, tidak melulu ketika akan menghadapi Lebaran.
Jangan dihabiskan Yang terpenting, kebutuhan Lebaran jangan sampai mengganggu tabungan. Dengan begitu, kita bisa terhindar dari masa-masa sulit setelah Lebaran.
Tidak selamanya hidup seseorang selalu di atas. Ada kalanya orang memerlukan dana dari simpanan di masa-masa sulit, seperti PHK atau sakit dan sebagainya.
Jadi, jangan habiskan tabungan Anda untuk berlebaran.
Esthi Nimita Lubis
Bahan: Grahita Purba Santika, ENLPengarah gaya: Nia L. Tobing
Thursday, September 18, 2008
sesi KELUARGA
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment