TUBUH KEBAL KARENA "BELAJAR"
Setiap tubuh manusia dibekali sistem kekebalan. Semakin banyak kenal bibit penyakit, cara
kerjanya semakin canggih.
"Makanya Bu, anak jangan terlalu bersih nanti malah
jadi sering sakit-sakitan," nasehat Ibu Farhan kepada Ibu
Dewi. Anak Ibu Dewi yang bernama Fandy memang kerap
sakit. Padahal Ibu Dewi sangat berhati-hati menjaga
kondisinya. Ia tidak boleh jajan sembarangan, tidak boleh
main di tempat kotor, bahkan kalau ada teman sekolah
Fandy yang sedang batuk-pilek, Ibu Dewi memilih
anaknya belajar di rumah. "Lo, daripada ketularan. Kan,
repot!" ujar Ibu Dewi.
Kasus ini menarik untuk dibahas, terutama pernyataan Ibu
Farhan bahwa anak yang terlalu bersih malah gampang
sakit-sakitan. Betulkah pendapat itu? Menurut dr.
Purnamawati Sujud Pujiarto, Sp.A(K). MMPaed.,
penelitian memang membuktikan anak yang terlalu dijaga
kebersihannya cenderung memiliki sistem kekebalan (imunitas) yang lemah. Ini berkaitan
dengan cara kerja sistem imunitas yang, menurut Wati, berdasarkan "memori". Saat mendapati
kuman tertentu, sistem kekebalan akan menyimpan datanya. Kala bertemu lagi dengan kuman
yang sama, sistem ini dapat langsung mendeteksi dan membuat benteng pertahanan.
Nah, kesterilan akan membuat sistem kekebalan seolah-olah tak pernah "belajar" mengenali
kuman. Sekalinya bertemu, akan kebingungan. Tak heran, serangan kuman yang sedikit saja
tak mampu dibendung.
Namun, Wati buru-buru menambahkan, bukan berarti anak yang sering main kotor-kotoran
akan lebih sehat. Jelas tidak. Hanya saja sistem kekebalan tubuh yang dimilikinya lebih
"canggih" dalam mendeteksi kuman karena sudah "sering" bertemu. Mungkin saja karena
ketidaksterilan itu anak jadi sakit. Namun jangan lupa, sakit juga melatih badan dan sistem
kekebalan untuk mengenali kuman yang pernah datang sehingga bisa dilawan dengan efisien.
"Jadi tak perlu terlalu melarang anak kalau ia mau bermain di tanah, asalkan menggunakan alas
kaki agar tidak dimasuki cacing yang dapat membuat sakit. Sesudah main, tangannya yang
kotor kan bisa dicuci," ujar dokter spesialis anak ini.
DUA SISTEM KEKEBALAN
Sistem kekebalan tubuh sebenarnya merupakan hasil kerja sama berbagai organ, jaringan
tubuh, sel, dan molekul yang secara keseluruhan melindungi tubuh dari serangan berbagai
"musuh". Untuk menjelaskan secara gamblang, Wati membagi sistem kekebalan tubuh menjadi
dua bagian, yaitu sistem kekebalan tubuh lini pertama dan sistem kekebalan tubuh lini kedua.
Sebagai gambaran sederhana, sistem ini dapat diibaratkan sebagai barikade yang berjuang
mati-matian memproteksi tubuh. Barikade terdepan, yaitu sistem kekebalan lini pertama, sudah
dimiliki setiap manusia sejak lahir. Misalnya, kulit, asam lambung, sel berbulu getar di Permukaan saluran napas, selaput lendir di saluran napas dan saluran cerna, serta
kuman-kuman jenis tertentu yang hidup di kulit dan di dalam usus.
Begitu bibit penyakit (patogen) menyerang, barikade terdepan mulai mengadakan pertahanan.
Kulit, misalnya, akan mengeluarkan penghalang kimiawi, seperti keringat dan cairan kelenjar
minyak yang bersifat asam serta mengandung enzim penghancur. Patogen yang menyusup
melalui saluran napas, saluran cerna, atau saluran kemih akan dihadang oleh selaput lendir
yang kental dan lengket hingga akhirnya terperangkap. Selanjutnya, patogen-patogen tersebut
dihancurkan oleh berbagai zat kimia yang dikerahkan sistem kekebalan tubuh.
Contoh lainnya, patogen yang masuk ke saluran cerna sebagian besar akan dihancurkan oleh
asam lambung. Yang masih selamat kemudian akan dihancurkan oleh basa dan enzim di usus
halus. Di saluran napas, jasad renik yang merupakan bibit penyakit akan dihadang bulu getar.
Kalau ada yang berhasil masuk ke tenggorok, mereka akan ditelan atau dibatukkan keluar.
Walau terlihat kuat, barrier pertama yang bersifat fisik ini tetap bisa ditembus. Misalnya kalau
kulit robek atau terluka dan jumlah bibit penyakitnya sangat banyak. Sistem kekebalan lini
pertama juga bisa tak berdaya kalau sifat bibit penyakit ini sangat virulen alias ganas.
Nah, kalau sampai sistem kekebalan primer kebobolan atau ada bibit penyakit yang berhasil
lolos dari hadangannya, maka giliran sistem kekebalan sekunderlah yang bekerja. Pertahanan
lini kedua ini terdiri atas sel-sel khusus (sel-sel darah putih) yang keberadaannya pun sudah
dibawa sejak lahir. Bedanya, dia baru bekerja saat dibutuhkan."Oleh karena itulah sistem
kekebalan ini disebut juga sebagai sistem kekebalan adaptif. Ia melawan patogen melalui
pembentukan antibodi dan dengan menghancurkan sel yang berhasil disusupi patogen," kata
Wati.
Sistem kekebalan sekunder ini memiliki karakteristik berupa memori, spesifik, dan
keberagaman. Contohnya, jika anak sembuh dari suatu penyakit menular, kemungkinan besar ia
tidak akan mengalami lagi infeksi yang sama karena sel memori bisa mengenali patogen yang
menyerang kembali. Tubuh jadi paham betul bagaimana menangkal musuh yang sama.
Bersamaan dengan itu, sel memori akan "menggerakkan" sel-sel lain dalam sistem kekebalan
untuk memusnahkannya.
Namun, jangan langsung menganggap sistem kekebalan sekunder ini sebagai sistem sakti yang
bisa selalu melawan bibit penyakit. Alasannya, kekebalan terhadap satu penyakit menular, tidak
langsung disertai kekebalan terhadap penyakit menular lainnya. Inilah yang dimaksud dengan
karakteristik spesifik. Sedangkan yang dimaksud dengan keberagaman adalah tubuh bisa
mengembangkan kekebalan terhadap satu sumber penyakit yang menimbulkan berbagai jenis
penyakit.
TIDAK 100 % MELINDUNGI
Yang perlu disadari, seperti dikatakan Wati, dua lapis barikade ini tidak dapat 100 persen
melindungi tubuh dari bibit penyakit. Bila sistem kekebalan kalah tempur, tubuh akan sakit.
Pertanyaan selanjutnya adalah, dalam kondisi bagaimana barikade-barikade tersebut bisa
tertembus patogen? Salah satunya, saat daya tahan tubuh anak sedang menurun. Faktor
penyebabnya antara lain, kondisi tubuh yang terlalu lelah, pola makan yang buruk, kurang
berolahraga, bibit penyakit yang menyerang sangat berbahaya, atau serangannya terjadi secara
bertubi-tubi. Namun biasanya kondisi kalah tempur ini terjadi singkat saja, kok. "Jadi, sakit
dalam hitungan hari itu wajar. Seperti halnya mobil, kondisinya juga tidak akan prima terus,"
tandas Wati.
Jangan lupa, sebagian besar infeksi virus memiliki sifat self limiting desease atau akan sembuh
sendiri. Biasanya dalam 3-4 hari. Selebihnya seperti infeksi virus hepatitis B yang diperoleh pada
usia sangat dini, virus hepatitis C, dan HIV tidak akan sembuh sendiri. Sistem kekebalan juga
bisa rentan, tapi sedikit sekali orang yang dilahirkan dengan gangguan sistem kekebalan
permanen (immune deficiency syndrome).
Kesimpulannya, menjaga kebersihan itu tetap penting untuk menangkal segala macam penyakit.
Bukankah pencegahan lebih baik ketimbang pengobatan. Ajaklah anak menjaga kebersihan
dengan mencuci tangan secara benar. Hal ini akan membawa dampak positif dalam mencegah
atau mengurangi penularan penyakit infeksi.
Pola hidup sehat dengan cara memberikan makanan bergizi kepada anak adalah syarat wajib
untuk membangun sistem kekebalan yang kuat. Tanamkan juga kebiasaan berolahraga secara
teratur. Beritahu anak agar menyisihkan cukup waktu untuk beristirahat. Yang tak kalah
penting, sistem kekebalan dapat dibangun secara efektif melalui imunisasi. Cara ini juga dapat memotong rantai penularan penyakit.
ANTIBIOTIK PENGARUHI KEKEBALAN TUBUH
Secara tidak langsung, antibiotik berpengaruh pada kekebalan tubuh anak. Pemakaian yang
tidak tepat akan membuat daya tahan tubuhnya jadi rentan.
Saat masuk ke dalam tubuh, antibiotik tidak hanya akan membasmi bibit penyakit tapi juga
kuman-kuman lain yang "baik". Padahal kuman-kuman ini merupakan bagian dari sistem
kekebalan yang menjaga keseimbangan agar kuman jahat tak bisa tumbuh subur. Konsumsi
antibiotik yang terlalu banyak juga akan mengakibatkan kuman jadi resisten sehingga membuat
anak jadi lebih sering sakit.
PERLUKAH SUPLEMEN UNTUK DAYA TAHAN TUBUH?
Kini banyak iklan yang menggaungkan khasiat produk suplemen atau multivitamin demi
meningkatkan kekebalan tubuh anak. Beberapa orang tua pun beranggapan bahwa suplemen
multivitamin bisa membuat anaknya jauh dari sakit-sakitan seperti batuk-pilek. Padahal
menurut Wati, produk-produk tersebut sampai saat ini tidak terbukti dapat meningkatkan daya
tahan tubuh, termasuk suplemen atau multivitamin yang berharga relatif mahal. "Daya tahan
tubuh anak terhadap infeksi virus flu akan menguat sejalan dengan bertambahnya usia. Jadi
tidak ada hubungan dengan suplemen atau multivitamin."
Jadi, lanjut Wati, hendaknya orang tua tak perlu khawatir berlebihan bahwa daya tahan tubuh
anaknya lemah. Karena sebetulnya, tubuh sudah dikaruniai sistem kekebalan yang luar biasa
oleh Tuhan. "Apakah ada produk buatan manusia yang bisa menyamai pemberian-Nya? Please
be rational and be wise. Tugas kita adalah memelihara anak dengan menjalankan pola hidup
sehat; pola hidup yang berimbang," tandas Wati.
RAGAM CARA PENULARAN PENYAKIT
Dari ribuan kuman, bakteri, dan virus yang sudah berhasil diidentifikasi, hanya sejumlah kecil
saja yang bisa menimbulkan penyakit, terutama yang patogen. Mekanisme penularan yang
paling sering terjadi yaitu melalui beberapa organ tubuh, sebagai berikut:
* Saluran napas (dengan cara inhalasi atau terhirup). Ditularkan oleh penderita melalui
semburan cairan yang keluar saat penderita batuk atau bersin.
* Saluran cerna (dengan cara tertelan). Patogen yang keluar melalui tinja bisa mencemari
makanan dan minuman yang kemudian dimakan. Penularan ini disebut fecal-oral atau dari tinja
ke mulut.
* Kontak langsung. Patogen ditularkan melalui jabatan tangan atau ciuman.
* Kulit, selaput lendir (inokulasi). Kuman-kuman jahat bisa masuk ke dalam tubuh melalui kulit
atau selaput lendir yang koyak. Misalnya karena luka operasi, transfusi, tato, tindik dan lain-lain.
* Plasenta. Beberapa penyakit menular ibu dapat ditularkan melalui plasenta ke janin.
Umpamanya, Hepatitis B, HIV, Rubella dan lain-lain.
SUMBER PENYEBAB PENYAKIT
Umumnya, penyakit yang paling sering menyerang bayi dan anak adalah flu, selesma
(influenza), dan diare. Sumber penyakit (infeksi) tersebut bisa berasal dari luar maupun dalam
tubuh. Terbanyak berasal dari luar tubuh atau yang disebut infeksi eksogen. Sumber infeksi
tersebut antara lain:
* Manusia
Sumber ini paling sering terjadi. Seseorang yang tengah menderita suatu penyakit menular
dapat menyebarkan patogennya pada orang lain. Penularannya bisa saat si penderita belum
menunjukkan gejala sakit tapi kuman sudah masuk ke dalam tubuh, misalnya hepatitis A.
Namun penularan lebih sering terjadi saat di tengah-tengah rentang sakitnya, seperti batuk
rejan. Ada juga penyakit yang ditularkan setelah penderita menunjukkan kesembuhan, misal
demam tifus. Namun ada cara penularan "tersembunyi". Contohnya hepatitis B yang bercokol
untuk jangka waktu lama, tanpa menimbulkan gejala, tapi si penderita potensial menulari orang lain.
* Binatang
Penularan dari binatang ke manusia bisa terjadi seperti oleh rotavirus sehingga manusia berisiko
mengalami infeksi tertentu. Produk binatang seperti susu, daging, juga dapat menjadi sumber
penularan penyakit infeksi tertentu. Ini karena pengolahan yang tak baik atau terkontaminasi.
* Gigitan serangga atau nyamuk
Penyebaran penyakit menular bisa terjadi lewat perantara nyamuk seperti pada penyakit malaria
dan demam berdarah.
* Tanah
Tanah mengandung jasad renik dalam jumlah yang sangat besar. Sebagian besar tak
membahayakan tapi ada pula yang dapat mengancam jiwa. Misalnya, kuman penyebab tetanus.
Udara dan debu juga bisa terkontaminasi jasad renik dari berbagai sumber.
* Makanan dan minuman
Makanan dan minuman sangat mudah terkontaminasi patogen bila diolah oleh orang yang
tengah menderita suatu penyakit menular. Penyakit tifus (suatu infeksi kuman) dan hepatitis A
(suatu infeksi virus) bisa ditularkan melalui makanan dan minuman. Oleh karena itu, risiko
penularan penyakit menular ini akan meningkat pada kondisi sanitasi dan higiene yang buruk.
* Barang sehari-hari seperti handuk, pakaian, dan peralatan makan
Barang-barang yang dipakai penderita suatu penyakit infeksi dapat menularkannya pada orang
lain yang memakainya.
Thursday, March 13, 2008
SESI KESEHATAN
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment